1000! SOLD! Alhamdulillah :)

yeah… tapi masih males nulis hehehe

Categories: Uncategorized | Leave a comment

500, dan Belum Boleh Ongkang-ongkang Kaki!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Postingan kali ini wajib diawali dengan bacaan Hamdalah, Alhamdulillahirabbil’alamin…

Bagaimana tidak, milestone kedua yaitu penjualan 500 buah kaos akhirnya tercapai. Masih ingat ga, kalo sudah 4 bulan berlalu sejak milestone pertama tercapai yaitu 100 kaos (waktu itu tercapai dalam waktu 3 bulan 2 minggu). Dan sekarang 400 kaos tambahan bisa laku dalam waktu 4 bulan, ini artinya setiap bulannya rata-rata terjual 100 kaos. Masya Allah…

Apa rahasianya?

Mau tau banget apa mau tau aja nih? hehehe…

Semua pastinya atas kuasa Allah SWT, dengan ijin dan barokah-Nya lah semua ini bisa tercapai, ini jelas sudah hakikat. Tapi pasti ada usaha-usaha yang Mamang dan team lakukan sebagai syariatnya. Langsung aja lah kita bahas 7 Rahasia Penjualan Kaos ala On The Brot, huehehehe…

  1. Study Your Market. Ini artinya bukan belajar di pasar, tapi pelajari pasar Anda! Ingat pasar Anda adalah manusia yang butuh gaya, kadang suka narsis sampai lebay hahaha, manfaatkan celah ini!
  2. Use the Right Propaganda! Tanamkan ke benak pelanggan bahwa produk yang Anda jual adalah produk unggulan, bukan produk yang biasa-biasa saja.
  3. There’s No End to Innovation! Karena ketika Anda berhenti berinovasi, bisnis Anda mati.
  4. Make an Affordable Product. Sebagus apapun produk Anda, kalau pasar tidak mampu membelinya maka sia-sia hasilnya.
  5. Offers Additional Value. Kalo cuma jual kaos, orang lain juga jual koq, tapi harus ada nilai tambah yang membedakan produk Anda dari produk sejenis lainnya.
  6. Be Close to Your Customer. Harus akrab sama (calon) pelanggan. Gak ada yang mau beli barang kalo yang jualannya judes :D
  7. Please Your Customer. Karena kepuasan pelanggan adalah yang paling utama.

Singkat-singkat memang poin-poin yang di-share, namun InsyaAllah ke depannya akan didalami lebih jauh, 1 postingan akan membahas 1 poin di atas…

Maaf juga, postingan kali ini ga banyak ‘heureuy’-nya, ini dikejar-kejar koneksi lelet, hehehe…

Patepang deui dina postingan berikutnya yah :)

Categories: Sharing | Leave a comment

Milestone Pertama, dan Langkah Selanjutnya

Alhamdulillah, kemarin Mamang baru saja melaksanakan ibadah #bukabagasi yang ke-5 kalinya dalam sejarah. Lebih sepi pengunjung daripada waktu #bukabagasi yang ke-4, namun secara total penjualan justru lebih banyak. Lho koq bisa? Hahaha, soalnya sisanya merupakan penjualan sambil rehat di salah satu kafe. Enak juga ya kalo bisa kaya gitu terus jualannya, Mamang nunggu di kafe, yang mau beli pada datang ke kafe, Mamang bukain bagasi biar dia lihat-lihat barangnya, transaksi selesai. Mirip lah sama transaksi heroin mafia kelas atas, bahahaha.

Milestone yang Mamang targetkan adalah penjualan 100 kaos, yang direncanakan tercapai pada semester pertama Mamang turun jualan. Realisasinya? Wow, Alhamdulillah, dalam waktu 3 bulan 2 minggu, milestone itu berhasil dicapai, bahkan angkanya mencapai 120 kaos! Masa-masa kritis sepi order Alhamdulillah sudah lewat, dari grafik penjualan setiap #bukabagasi dilaksanakan sudah terlihat kestabilan jumlah penjualan, dan masih meningkat walau agak landai grafiknya.

Malah ngelamun, Mamang lagi nerima SCTV award dengan predikat tukang kaos paling ngetop. Lalu Mamang bacain daftar terimakasih, buat Allah SWT buat segala jalan dan kemudahan yang diberikan-Nya, orang tua Mamang, Ambu dan Abah Mamang hayang kawin (lho). Tak lupa untuk semua fans Mamang di manapun kalian berada, tanpa kalian Mamang tidak akan mungkin berdiri di sini (di Sukaregang, panas-panasan nungguin kaos ada yang lirik, hiks). Ibu Acin Musica Studio, Pak Yan Djuhana Sony Music, terimakasih buat lagu-lagunya yang Mamang download dari 4shared (lho lagi). Dan terakhir tapi tak kalah pentingnya, terimakasih buat Anisa Rahma (@AnisaChiBi) karena walaupun Mamang selalu godain dan becandain di twitter, tapi kamu tidak pernah marah atau merasa terusik (baca: gak pernah bales mention).

Ahahaha, ngelamunnya kejauhan. Balik lagi ke dunia nyata. Setelah milestone tercapai, ada beberapa langkah berikutnya yang sudah direncanakan untuk dijalankan.

Pertama, adalah bekerja sama dengan tempat usaha yang sudah jauh lebih terkenal. Kandidat? Cibiuk Resto, Pujasega, atau Astro (Asep Stroberi, bukan Astro TV :D). Cibiuk sudah membuka lebar pintu kerja sama, cuma Mamang kurang sreg karena kantornya ternyata di Bandung. Nantinya koordinasi akan susah kalau apa-apa harus urusan sama kantor Bandung, lagipula Mamang belum berencana menjual produk GuratGarut di semua cabang Cibiuk yang sudah tersebar di banyak kota, baru untuk daerah Garut saja dulu. Astro tempatnya representatif, ada spot khusus penjualan souvenir di sana, namun kelemahannya adalah lokasi yang terlalu jauh dari pusat kota, sehingga nanti calon pembeli dari kota Garut akan kesulitan menuju lokasi. Kandidat mengerucut ke Pujasega, ini adalah pusat penjualan oleh-oleh yang ramai diserbu wisatawan, cuma masih perlu dijajaki sistem kerjasama yang akan dijalani, serta apakah masih tersedia spot untuk GuratGarut masuk di sana.

Untuk urusan kerja sama dengan tempat usaha ini, Mamang sudah membuat company profile. Malah suka terharu euy ngetik company profile teh, terutama pas nulis bagian visi dan misi.

Visi GuratGarut yang paling utama adalah menyediakan souvenir khas Garut yang dapat dibanggakan untuk diberikan kepada keluarga, kerabat, maupun kolega bisnis. Hoho, kalau mau bisa dibanggakan tentunya kualitas yang utama, harga pun memang jadinya relatif tinggi untuk sebuah souvenir (walaupun jika dibandingkan dengan harga kaos distro online yang sudah terkenal, harga Mamang bahkan bisa setengahnya saja lho!). Jadinya kuping harus tebel pas jualan, harus biasa kalau denger pembeli bilang “ih mahal, biasa juga lima belas ribuan kaos mah”, yah dimaklum saja itu mah pembelinya biasa beli karung terigu kodian kayanya, hahaha.

Bicara soal misi, Mamang sudah pernah menyebutkan kalo GuratGarut mau jadi setara Dagadu Jogja atau Joger Bali, jadi kalau nanti wisatawan main ke Garut tuh rasanya kurang afdhol kalau pulang ga bawa kaos GuratGarut. Misi ini tentunya harus diperjuangkan, dan akan dipengaruhi juga oleh kondisi pariwisata dan keamanan kota Garut. Makanya, sekalian Mamang jadikan misi lain dari GuratGarut yaitu untuk sama-sama menjaga pariwisata kota Garut tetap jadi primadona. Caranya banyak, mulai dari sama-sama menjaga kebersihan lingkungan Garut, juga menjaga keamanan kota Garut. Contoh paling kongkret, yaitu kemarin sewaktu demo terhadap Bupati. Ga usah anarkis lah, yang rugi kita juga, sama itu juga tuh punten weh ieu mah, ulah ngaruntah sembari demo teh :D

Langkah berikutnya yang Mamang rencanakan adalah dibukanya kesempatan untuk jadi Reseller bagi produk GuratGarut. Ide ini muncul setelah Mamang menganalisis jumlah penjualan di long weekend yang Alhamdulillah cukup tinggi, berbanding di hari biasa yang lebih sepi karena duma nunggu order dari internet. Mungkin kalau ada reseller yang aktif, penjualan bisa ditingkatkan lebih baik lagi.

Seperti gayus berambut, eh gayung bersambut, ada salah satu warga Garut yang menghubungi Mamang, berminat membeli kaos untuk dijual kembali. Sama Mamang teh diajak ngobrol dulu, dijelasin pait-paitnya jualan kaosnya Mamang. Mamang ga mau orang beli dulu kaosnya baru dijual lagi, kasihan kalo ada sisa, soalnya jualan kaos mah suka ada sisa di ukuran-ukuran kaos yang jarang dibeli. Lebih baik bagi Mamang, sistemnya adalah komisi, jadi reseller menyimpan sejumlah deposit (uang jaminan, minimal disimpan 3 bulan, setelah itu jika reseller mau berhenti, deposit dikembalikan utuh) seharga kaos yang diambil untuk dijual kembali dengan harga yang ditentukan sama Mamang. Nantinya kaos-kaos yang tidak laku, boleh ditukarkan dengan kaos lain, misalkan ada desain baru atau kaos lama tapi butuh ukuran yang lain. Sistem komisi progresif akan diterapkan berdasarkan penjualan bulanan yang berhasil dicapai.

Hehehe, kalau dijelaskan di sini mah bakal panjang ceritanya. Karena banyak yang harus diselaraskan juga mengenai visi, misi, dan penjagaan citra yang harus dijalankan. Maklum kalau jualan seperti ini, paling susah itu adalah menjaga nama. Pokoknya kalau yang berminat jadi Reseller kaos Mamang, sok lah follow twitter Mamang @GuratGarut, nanti kita komunikasi lebih lanjut di sana. Atau boleh juga via email GuratGarut@gmail.com atau Yahoo Messenger Mamang di GuratGarut@yahoo.com nanti kita ngobrol-ngobrol dulu. Owkeh?

Categories: Sharing | Tags: , , , , , , , , | 2 Comments

‘Bangga’ tapi Bangga

Lelahnya perjuangan kali ini membuat badan terutama bagian kepala menjadi bau matahari. Untunglah bau matahari ini hilang karena Mamang pake shampoo Clear semua terbayar lunas dengan penjualan yang mencengangkan. Terlebih kemudian Mamang membalasnya dengan wisata kuliner seafood di samping Prima Rasa, mandi air hangat, dan baluran minyak gosok di badan. Ditambah secangkir kopi ginseng dan sebungkus kerupuk kulit pedasss, benar-benar membuat badan nyaman menulis di udara dingin Kota Garut ini :)

Bangga tapi Bangga? Bangga (dicetak miring) adalah kata dalam Bahasa Sunda yang artinya berat atau susah. Ya, susah. Orang yang sudah pernah terjun dalam usaha pasti mengalami kesulitan dan masalah, entah itu kesulitan mencari lokasi yang pas untuk menjajakan dagangannya, kesulitan modal, hingga yang paling ringan seperti kesulitan buang air atau yang sangat berat dan akut seperti kesulitan mendapat jodoh. :D

Bangga tapi Bangga, berat tapi hasilnya sungguh membanggakan. Mamang masih ingat saat pertama kali buka bagasi dijalankan. Keadaannya seperti begini:

  • Lokasi: Tempat Parkir Mobil Lapangan Kerkhof (hasil berunding alot dengan kompeni karena sebetulnya tempat itu bukan diperuntukkan untuk berjualan). Untung Mamang ganteng, jadi tukang parkirnya percaya aja waktu dibilang Mamang tunangannya Anisa Cherrybelle, akhirnya diizinkan jualan di situ (kesamaan nama, kejadian, dan tempat memang disengaja, mengingat Mamang euweuh bahan deui selain Anisa haha). :D
  • Start Jualan: Jam 6 subuh. Cuma kalah pagi sama yang pulang dugem. :D
  • Tingkat Penjualan: 1 kaos per jam. Hehe, minim yah, tapi waktu pertama kali nerima pembayaran dari pembeli itu rasanya mendebarkan, ga jauh beda lah sama kaya waktu Afiqa dikasi biskuit baru rasa Jaruk.
  • Respon pembeli:
  1. “Warnanya cuma putih sama item, A?” – Ibu-ibu yang habis jogging.
  2. “Yang gambar I ♥ GRT, tapi yang itemnya ga ada, A?” – Mas-mas biker.
  3. “Buat anak saya ada ukurannya ga, Mas?” – Om-om membawa balita.
  4. “Icalan naon ieu teh, A?” – Tante tukang Lengko.
  5. “A, gaduh obeng? Ari nomer hape gaduh?” – ABG korban iklan -.-”

Coba bandingkan dengan hasil buka bagasi tadi siang:

  • Lokasi: Pinggir Jalan Sentra Kulit Sukaregang (hasil merebut spot lahan jualan tukang bala-bala/gorengan).
  • Start Jualan: Jam 10 pagi. Cuma Mamang kayanya tukang jualan yang kesiangan, hahaha. :D
  • Tingkat Penjualan: 10 kaos per jam. Bandingkan, 10 kali lipat bok!
  • Respon pembeli:
  1. “Pink? Apaan ini pink!” – Ibu-ibu yang turis luar kota, sambil membanting kaos.
  2. “Ada yang ukurannya M ga? buat si dia.” – ABG siaga, siap beliin oleh-oleh buat pacar.
  3. “Oh, kaosnya ada harganya toh!” – Bapak-bapak, dikenal sebagai provokator kerusuhan massa.
  4. “Babancong teh apa?” – Tante-tante yang berharap mendapat penjelasan bahwa itu berbeda dari bencong.
  5. “Sabarahaan eta kaosna? Nyungkeun kaosna atuh” – Kakek-kakek, dicurigai merupakan talent dari acara TOLOOONGG!

Hehe, memang respon pembeli mah aneh-aneh, mungkin maksudnya mereka mau menyaingi keanehan Mamang, hah tidak akan berhasil! Mamang mah anehnya sudah mendarah-daging domba. Tidak ada duanya, kecuali kalo Andhika Kangen Band ikut jualan kaos, baru deh keanehan Mamang ada saingannya. :D

Tapi perlu ditarik benang merah dari perbandingan dua kondisi di atas, di mana pada awal masa perjuangan Mamang, pembeli banyak bertanya apakah ada produk lain selain yang dipajang, sementara belakangan ini pembeli lebih banyak bertanya apaan nih yang dijual koq aneh sih! Tapi karena aneh jadi pengen beli ah :D

Di sinilah proses pembelajaran berjalan. Bagaimana sembari menjual produk yang kita punya, kita sekalian menyerap selera pasar, menangkap keinginan pembeli, untuk direalisasikan dalam produk baru selanjutnya. Dulu kaos Mamang cuma ada warna putih dan hitam (tapi ini bagus untuk permulaan, selalu pilihlah warna netral kalau belum tahu selera pasar Anda!), kemudian bertambah kaos abu-abu, pink, biru langit. Dulu kaosnya hanya untuk dewasa, sekarang sudah ada edisi anak-anak dengan warna merah dan kuning. Seiring waktu berjalan, Mamang makin mengerti apa yang pembeli cari, dan pembeli makin memaklumi keabnormalan Mamang.

Sekarang, ketika mempersiapkan desain baru, makin banyak pertimbangan yang dilibatkan. Lagi-lagi ngalamin yang namanya bangga tapi bangga. Butuh effort dan otot lebih untuk menghasilkan desain baru sekarang ini, data statistik penjualan, hasil pengamatan selera pembeli dan masih banyak pertimbangan lainnya mau tidak mau jadi faktor penentu sekarang. Lebih sulit, tapi hasilnya juga lebih memuaskan, dan setelah dilepas ke pasaran, hasilnya itu yang bikin bangga.

Hal-hal yang Mamang pelajari dari selera pembeli selama ini, kira-kira begini:

  1. Jangan bikin desain gambar Eva Arnaz pamer bulu keteknya, jaman cewek berbulu ketek sudah lewat, cukup di film Warkop DKI saja kita harus mengalami penurunan nafsu makan gara-gara melihat Eva Arnaz memakai tanktop.
  2. Bukan berarti semua yang sedang trend itu bisa dijadikan ide untuk desain baru. Dijamin desain kaos Tomcat, atau desain kaos dengan gambar Olga Syahputra lagi memandu acara Jilat Inipentinggasih itu gak bakal banyak peminatnya.
  3. Hindari desain yang mengandung makna-makna yang sensitif. Jangan taruh gambar pantat bayi di kaos, pantat bayi itu sangat sensitif, gunakan bedak bayi yang cocok unntuk kulit bayi Anda!
  4. Jangan membuat desain yang membuat calon pembeli senewen, misal: gambar komedian Narji Cagur nyengir dengan tulisan di bawahnya: “SAYA LAGI NGACA NIH!”
  5. Pembeli selalu menggunakan jurus menjatuhkan harga, kalo ga ngomong “kirain kaosnya bisa sepuluh ribuan” atau “biasanya juga beli setengah harganya”. Jangan panik, cukup bilang sama pembeli: “Pak/Bu, kalo uangnya ga cukup, kaos saya bisa di-leasing-kan ke Adira, ayo saya antar!” :D
  6. Jangan ngaku kalau kamu itu tunangan Anisa Cherrybelle, bisa jadi salah satu pembeli itu adalah wartawan infotainment yang menyamar! :D

Back to reality, Mamang sedikit share tentang prinsip bisnis Mamang. Starts small, but don’t dream small! Ya, mulailah sesuatu dari kecil, usahakan padat karya, bukan padat modal. Harus sabar menunggu bisnis berkembang, karena dari proses berkembangnya bisnis, Anda bisa melihat layak atau tidaknya bisnis ini untuk dijalankan. Tapi, jangan pernah bermimpi untuk jadi kecil, teruslah berkembang dan jangan pernah puas, hal ini akan menjaga motivasi Anda tetap tinggi.

Nikmatilah proses, jangan terburu-buru. Seperti kata Mamang, hirup mah santai weh, bisnis itu turun naik. Selami prinsip ingus, begitu turun cepat-cepat Anda ngingsreuk, cari cara untuk menaikannya lagi, jangan terlalu lama dibiarkan turun, nanti kering terjemur. :D

Akhir kata, percayalah bahwa life is good… Setelah bangga, maka akan terbitlah bangga! :)

Demikian, salam leuleupeutan, otot betis Mamang lalocotan

Categories: Sharing | Tags: , , , , | 2 Comments

Branding Concept, dan Prinsip: Gak Kenal Kata Saingan

Tahun 2012 ini memang jadi tahun mulai bergulirnya GuratGarut di dunia nyata, ide-ide yang selama ini sering digodok (bukan di Godog, ataupun di Glodok, -red) akhirnya terealisasi juga. Dulu banyak banget ide yang muncul dikarenakan melihat perkembangan pariwisata Kota Garut tercinta ini, namun terlalu banyak pertimbangan malah gak jalan-jalan. Sadar kalau ide dan wacana itu butuh Hemaviton Action biar GRENG, akhirnya di akhir taun 2011 kami mulai melakukan pembuatan brand, tentunya dengan 3 prinsip utama yang sudah kita semua tahu: Unique Branding, Unique Desain, dan Unique Packaging.

Branding. Sempet muncul beberapa calon nama untuk brand Mamang ini, mulai dari yang sok cooleuheu seperti Glow (ini adalah bendera lama Mamang waktu jualan tahun 2005), sok British semisal The GemCity (alias Kota Intan huehehe), sampai yang sok ngampung kayak Badjoe-Anjar (baca: Baju Anyar, -red). Memang semua namanya sok-sokan, ya persis lah sama Mamang yang sok gaul. Bae lah sok gaul oge, asal jangan salah gaul weh kata Mamah Dedeh juga, ya kan? Emang Iye, Emang Begitu!

Sampai akhirnya dicetuskan sebuah nama yang bener-bener crunchy, kriuk-kriuk gitu, pedas menyengat telinga, dan nampol (naha jadi asa jiga iklan kiripik euy): GuratGarut. Nama ini ‘megang’ banget dalam beberapa aspek. Pertama, menunjukkan ciri khas utama Garut: IYA. Kedua, gampang buat diingat: IYA. Ketiga, filosofis juga IYA. Gurat itu kan artinya  tulisan atau pahatan. Jadi GuratGarut itu adalah di mana Mamang menuangkan ide, kecintaan, kerinduan, dan idealisme tentang Garut, dalam bentuk tulisan, dengan media yang beragam, kaos lah, pin lah, atau media-media lain yang akan segera menjadi produk GuratGarut selanjutnya. Ini bukan sekedar jualan, tapi ini adalah sebuah bentuk kreasi ditambah citarasa tinggi sebagai nilai jual!

Desain. Hmm, kalo soal desain, ini kan sifatnya dinamis banget. Setiap ada ide baru, bahkan setiap Mamang nagog (di kafe, di WC, di pinggir jalan menunggu bus) bisa lahir desain baru. Tapi yakin lah kalo desain Mamang mah pasti Unique.

Itu kalo desain produknya, nah kalo desain brand GuratGarut, bisa dilihat sendiri kaya gimana, kalo Mamang sih dari awal memang mendesain ini sebagai premium souvenir, jadi masih satu kelas di atas Solar, namun tidak semahal Pertamax (hadeuh capruk wae hehe). Yup, Mamang gak mau bikin Garut malu dengan souvenir yang kelasnya ecek-ecek, desain kami selalu elegan, namun dengan harga jual yang bersaing lah (sakieu wae sok loba keneh nu menta diskon geura — curhat saeutik ah) :)

Logo? Coba tebak, sebetulnya apa sih logonya GuratGarut itu? Hehehe, Mamang simpan itu sebagai misteri aja yah, biar seru kaya sinetron Indonesia, siapa tau atuh bahas logo aja bisa sampai 7 season, yah asal ga ada adegan naik elang raksasa, atau bertarung melawan ular naga dan buaya saja. Amit-amit! Hehe becanda deng, nantikan saja postingan khusus bahas logo GuratGarut ini :)

Packaging. Weits, kalo soal Packaging mah jangan ditanya. You beli kaos sama Mamang, you dapet lebih dari sekedar kaos :) Label, spunpond bag, exclusive plastic bag, bahkan jualan Pin yang murmer pun packaging-nya yahud. Konsep bahwa bungkusnya pun harus masih bisa berguna jadi dasar pemikiran Mamang dalam membuat packaging produk-produk GuratGarut.

Lalu, ketika Mamang turun ke ‘Medan Perang’, rupanya sudah ada pemain lain di segmen bisnis ini. Hmmm… Takut? Nggak! Ngerasa ada saingan? Nggak juga tuh!

Mamang malah senang, sekarang orang-orang di Garut pada berpikiran maju. Yang jualan kaos tematik Garut ada beberapa, desainnya juga hampir semuanya unik, lucu, dan bagus. Mamang mah semangat liat yang lain juga semangat jualan, cuma nitip satu aja, jangan malu-maluin nama Garut. Owkey?

Ga ada lah kata-kata saingan, semua harus bisa maju bersama, tarik devisa sebesar-besarnya, manfaatkan momen berkembang pesatnya pariwisata di Kota Garut. Justru kalo ga ada brand lain, jadi kurang termotivasi buat terus melakukan imunisasi, eh inovasi deng haha, plus improvisasi tentu. Bahkan kalo ada brand lain yang mau ngajak diskusi, Mamang pasti menyambut dengan baik, komo mun bari ditraktir di restoran mah huehehe..

Berani maju bareng? HAYU!

Categories: Sharing | Tags: , , | Leave a comment

Bisnis Kaos, Karena Oleh-oleh Garut GAK cuma Dodol!

Howdy Garut, baru beberapa jam saja Mamang ninggalin Garut, rasanya udah kangen lagi aja. Long weekend kemaren benar-benar susuatu, kopi dua, bala-bala opat, pas cebaneun haha…

Eh beneran deng, sesuatu banget. Nyaris ga ada waktu istirahat.

Start di Jumat subuh, Mamang ngurusin packaging produk kaos baru, plus produk magnetic pin. Kepotong sholat Jumat, semuanya baru beres bada Ashar coba. Pyuhhh tapi gitu tuh kalo adrenaline lagi tinggi, soalnya udah kebayang Hari Sabtu dan Minggu mau beredar, buka bagasi, jualan on the road!

Kenapa sih Mamang semangat jualan kaos? Emang Garut masih kekurangan oleh-oleh alias souvenir gitu? Gak juga, tapi ada beberapa pertimbangan kenapa kaos yang dipilih buat jadi the next souvenir buat Garut.

Dari pandangan bisnis, kaos itu ga ada matinya. Ga dimakan jaman, ga ada musim-musiman, modenya ON terus, tahan lama dan bikin puas (haduh koq malah kaya iklan ON-Clinic haha), ga kenal basi, dan merupakan media berkreasi yang asik :)

Ah teori si Mamang mah! Gak juga, ini bukan pertama kali Mamang jualan kaos. Walau bukan pemain lama juga, tapi kalo dikilas-balik perjalanan Mamang di dunia kaos ini sudah lumayan lah.

Tahun 2005, Mamang pernah jual kaos pake sistem pre-order. Target pasar? SMA 1 Tarogong (sekarang SMA 1 Garut). Berhasil? Tentu, yang pesen cuma satu orang :D Padahal dulu mamang jual dengan margin yang bener-bener tipis, tapi memang segmen pasarnya bukan segmen konsumen aktif euy, akhirnya mau ga mau Mamang muter otak gimana cara biar si satu orang yang mesen ini ga kecewa, Mamang cari orderan via jual dedet ke temen-temen yang kenal, biar quota selusin supaya produksi bisa jalan itu terpenuhi.

Kapok? Nggak! Sebulan kemudian Mamang buka pre-order lagi. Target pasar kali ini? Sebuah fakultas di universitas ibukota. Berhasil? Alhamdulillah kali ini mah beneran berhasil, yang order lebih dari 120 orang yang artinya di atas 10 LUSIN! Beuh, quota minimum mah udah gak level lah haha :D Padahal harga jual di sini Mamang naikin dari yang di SMA, tapi lakunya nampol. Mamang sampe bisa beli kamera digital pertama Mamang dari labanya :)

Sehabis itu, karir di dunia kaos vakum dulu. Sampai sekarang punya visi baru buat bisnis lagi, dengan hati yang tak pernah lekang dari tanah kelahiran, Garut.

Kini @GuratGarut hadir. Sistemnya sudah Ready Stock. Target pasar? Jelas orang-orang yang berada di lingkaran Garut, karuhun, penduduk, orang yang KTP-nya Garut baik itu nembak atau jujur :D, juga orang-orang yang menginjakkan kakinya di Garut dari atas mobil-mobil berplat B, if you know what I mean :)

Berhasil? Tolak ukur keberhasilannya banyak, ada yang sudah dipenuhi, ada yang belum, dan karena ini masih on progress, sebuah perjalanan, keberhasilan belum menjadi kesimpulan, tapi menjadi proses pembelajaran. Banyak hal baru yang dipelajari dari berbisnis kali ini, banyak rekanan yang mulai tersambung benang kerja sama, dan banyak  teman baru yang jadi kenal dan berinteraksi, terlepas dari mereka itu adalah prospek potensial untuk jadi pembeli atau tidak.

Hingga kemarin tercetus sebuah tagline untuk bisnis ini, Karena Oleh-oleh Garut GAK cuma Dodol.. Yeah, Mamang pingin selain dodol nantinya para wisatawan yang datang ke Garut juga mencari souvenir alias oleh-oleh lain yang ga cuma berakhir di perut, dan semoga @GuratGarut mampu memenuhi peluang ini. Siapa tahu nanti @GuratGarut bisa menjadi seperti Dagadu-nya Garut, amien… :)

Categories: Kilas Balik, Sharing | Leave a comment

Terpercik keinginan tuk mulai berbagi

Bismillah, semoga isi blog ini mencerminkan judul dari tulisan pertama Mamang di sini… :)

Tadi Mamang baru saja melakukan blogwalking ke websitenya salah satu pengrajin yang bidang usahanya ga jauh dari bidang usaha Mamang. Hebat! Gitu kata Mamang melihat di websitenya isinya ga cuma jualannya dia saja, tapi banyak sharing pengetahuan dia tentang bidang usahanya.

Mamang juga mau waktu Mamang di dunia ini punya value, ga cuma nongol di infotainment sambil gandeng polisi ganteng (lho?), atau goyang-goyang dengan koreografi cuci-jemur di acara musik di tipi (ehem!), atau bebeakan jualan tapi ga ada nilai lebih yang didapat sama pelanggan Mamang.

Kenapa ga di twitter aja Mang? Kan di twitter juga suka sharing yang ga penting sampai bacanya harus sambil miring sampe kepala pusing tujuh keliling kaya habis makan daging kambing.. G AH, 140 krktr trllu mbtsi mmg dlm mbgi nlai n ilmu yg mw mmg bg, tuh kn ap kt mmg jg, ssh klo cm 140 krktr mah :-P

Justru Mamang di sini juga pengen menceritakan di balik tweet-tweet Mamang yang menurut sebagian orang lucu jiga anak ucing, tapi kata sebagian lainnya garing kaya korong kapoe.

Kenapa sih Mang ga jualan doank aja gitu, pake harus ngetweet ga jelas gitu, kasian tetangga saya Mang ga bisa tidur gara-gara saya baca tweet Mamang sampe ngakak terkentut-kentut, jadi aja Gempa Bumi skala 5 Richter!!! Simple, kalo dari segi bisnis, orang yang hatinya senang pasti akan lebih mudah tertarik membeli, ya ga? Walau Mamang bukan lulusan fakultas ekonomi, tapi masa sih gini aja ga ngerti? Mikir atuh dek! Lagian masa kentutnya sampe gempa, makan apa atuh ari maneh? Curiga makan beuleum karbit..

Tapi, bukan cuma buat tujuan bisnis aja koq Mamang bikin tweet-tweet #GuyonGarut yang penomenal itu (PD aja lah, biarin salah nulis juga, lumrah buat orang Sunda mah hehe). Melalui guyonan sederhana yang aktual seperti itu, Mamang berharap bisa berinteraksi lebih dekat dengan para wargi follower @GuratGarut di manapun berada. Sudah mau 9 tahun Mamang merantau meninggalkan Garut, Mamang ingin sekali merasakan atmosfer kekerabatan warga Garut yang selalu dirindu, seperti rindunya Marwan kepada Mawar, dan rindunya Kimmy kepada Sule (hehehe).

Masih jauh dari cukup rasanya sumbangsih Mamang buat Garut tercinta ini, paling hanya tiap Lebaran bagi-bagi duit sama anak-anak Garut, itu juga karena emak-bapaknya pada ngancam mau nyumpahin Mamang jadi jomblo mulia kalo ga ngasih. Semulia-mulianya jomblo, tetap saja rasanya terhina, teu ngeunah asa keur modol aya nu ngecrik!

Hehe, sudah semakin menyimpang saja tulisan Mamang ini, sebelum semakin tersesat lebih baik kita akhiri tulisan pertama ini, namun tak lupa Mamang mengingatkan, tanya pada dirimu apa sumbangsih yang sudah kamu berikan pada kampung halamanmu tercinta dan orang-orangnya yang bersahaja?

Belum ada? Good, mari saling berbagi dan mengingatkan, bahwa setiap manusia sebetulnya mempunyai misi mulia untuk memberikan value atau nilai lebih bagi sekitarnya…

Salam Leuleupeutan, Geus dibaca kalahka nundutan :D

Categories: Sharing | Tags: , | 2 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.