‘Bangga’ tapi Bangga

Lelahnya perjuangan kali ini membuat badan terutama bagian kepala menjadi bau matahari. Untunglah bau matahari ini hilang karena Mamang pake shampoo Clear semua terbayar lunas dengan penjualan yang mencengangkan. Terlebih kemudian Mamang membalasnya dengan wisata kuliner seafood di samping Prima Rasa, mandi air hangat, dan baluran minyak gosok di badan. Ditambah secangkir kopi ginseng dan sebungkus kerupuk kulit pedasss, benar-benar membuat badan nyaman menulis di udara dingin Kota Garut ini๐Ÿ™‚

Bangga tapi Bangga?ย Bangga (dicetak miring) adalah kata dalam Bahasa Sunda yang artinya berat atau susah. Ya, susah. Orang yang sudah pernah terjun dalam usaha pasti mengalami kesulitan dan masalah, entah itu kesulitan mencari lokasi yang pas untuk menjajakan dagangannya, kesulitan modal, hingga yang paling ringan seperti kesulitan buang air atau yang sangat berat dan akut seperti kesulitan mendapat jodoh.๐Ÿ˜€

Banggaย tapi Bangga, berat tapi hasilnya sungguh membanggakan. Mamang masih ingat saat pertama kali buka bagasi dijalankan. Keadaannya seperti begini:

  • Lokasi: Tempat Parkir Mobil Lapangan Kerkhof (hasil berunding alotย dengan kompeni karena sebetulnya tempat itu bukan diperuntukkan untuk berjualan). Untung Mamang ganteng, jadi tukang parkirnya percaya aja waktu dibilang Mamang tunangannya Anisa Cherrybelle, akhirnya diizinkan jualan di situ (kesamaan nama, kejadian, dan tempat memang disengaja, mengingat Mamang euweuh bahan deui selain Anisa haha).๐Ÿ˜€
  • Start Jualan: Jam 6 subuh. Cuma kalah pagi sama yang pulang dugem.๐Ÿ˜€
  • Tingkat Penjualan: 1 kaos per jam. Hehe, minim yah, tapi waktu pertama kali nerima pembayaran dari pembeli itu rasanya mendebarkan, ga jauh beda lah sama kaya waktu Afiqa dikasi biskuit baru rasa Jaruk.
  • Respon pembeli:
  1. “Warnanya cuma putih sama item, A?” – Ibu-ibu yang habis jogging.
  2. “Yang gambar Iย โ™ฅ GRT, tapi yang itemnya ga ada, A?” – Mas-mas biker.
  3. “Buat anak saya ada ukurannya ga, Mas?” – Om-om membawa balita.
  4. “Icalan naon ieu teh, A?” – Tante tukang Lengko.
  5. “A, gaduh obeng? Ari nomer hape gaduh?” – ABG korban iklan -.-“

Coba bandingkan dengan hasil buka bagasi tadi siang:

  • Lokasi: Pinggir Jalan Sentra Kulit Sukaregangย (hasil merebut spot lahan jualan tukang bala-bala/gorengan).
  • Start Jualan:ย Jam 10 pagi.ย Cuma Mamang kayanya tukang jualan yang kesiangan, hahaha.๐Ÿ˜€
  • Tingkat Penjualan: 10 kaos per jam. Bandingkan, 10 kali lipat bok!
  • Respon pembeli:
  1. “Pink? Apaan ini pink!” – Ibu-ibu yang turis luar kota, sambil membanting kaos.
  2. “Ada yang ukurannya M ga? buat si dia.” – ABG siaga, siap beliin oleh-oleh buat pacar.
  3. “Oh, kaosnya ada harganya toh!” – Bapak-bapak, dikenal sebagai provokator kerusuhan massa.
  4. “Babancong teh apa?” – Tante-tante yang berharap mendapat penjelasan bahwa itu berbeda dari bencong.
  5. “Sabarahaan eta kaosna? Nyungkeun kaosna atuh” – Kakek-kakek, dicurigai merupakan talent dari acara TOLOOONGG!

Hehe, memang respon pembeli mah aneh-aneh, mungkin maksudnya mereka mau menyaingi keanehan Mamang, hah tidak akan berhasil! Mamang mah anehnya sudah mendarah-daging domba. Tidak ada duanya, kecuali kalo Andhika Kangen Band ikut jualan kaos, baru deh keanehan Mamang ada saingannya.๐Ÿ˜€

Tapi perlu ditarik benang merah dari perbandingan dua kondisi di atas, di mana pada awal masa perjuangan Mamang, pembeli banyak bertanya apakah ada produk lain selain yang dipajang, sementara belakangan ini pembeli lebih banyak bertanya apaan nih yang dijual koq aneh sih! Tapi karena aneh jadi pengen beli ah๐Ÿ˜€

Di sinilah proses pembelajaran berjalan. Bagaimana sembari menjual produk yang kita punya, kita sekalian menyerap selera pasar, menangkap keinginan pembeli, untuk direalisasikan dalam produk baru selanjutnya. Dulu kaos Mamang cuma ada warna putih dan hitam (tapi ini bagus untuk permulaan, selalu pilihlah warna netral kalau belum tahu selera pasar Anda!), kemudian bertambah kaos abu-abu, pink, biru langit. Dulu kaosnya hanya untuk dewasa, sekarang sudah ada edisi anak-anak dengan warna merah dan kuning. Seiring waktu berjalan, Mamang makin mengerti apa yang pembeli cari, dan pembeli makin memaklumi keabnormalan Mamang.

Sekarang, ketika mempersiapkan desain baru, makin banyak pertimbangan yang dilibatkan. Lagi-lagi ngalamin yang namanya bangga tapi bangga. Butuh effort dan otot lebih untuk menghasilkan desain baru sekarang ini, data statistik penjualan, hasil pengamatan selera pembeli dan masih banyak pertimbangan lainnya mau tidak mau jadi faktor penentu sekarang. Lebih sulit, tapi hasilnya juga lebih memuaskan, dan setelah dilepas ke pasaran, hasilnya itu yang bikin bangga.

Hal-hal yang Mamang pelajari dari selera pembeli selama ini, kira-kira begini:

  1. Jangan bikin desain gambar Eva Arnaz pamer bulu keteknya, jaman cewek berbulu ketek sudah lewat, cukup di film Warkop DKI saja kita harus mengalami penurunan nafsu makan gara-gara melihat Eva Arnaz memakai tanktop.
  2. Bukan berarti semua yang sedang trend itu bisa dijadikan ide untuk desain baru. Dijamin desain kaos Tomcat, atau desain kaos dengan gambar Olga Syahputra lagi memandu acara Jilat Inipentinggasih itu gak bakal banyak peminatnya.
  3. Hindari desain yang mengandung makna-makna yang sensitif. Jangan taruh gambar pantat bayi di kaos, pantat bayi itu sangat sensitif, gunakan bedak bayi yang cocok unntuk kulit bayi Anda!
  4. Jangan membuat desain yang membuat calon pembeli senewen, misal: gambar komedian Narji Cagur nyengir dengan tulisan di bawahnya: “SAYA LAGI NGACA NIH!”
  5. Pembeli selalu menggunakan jurus menjatuhkan harga, kalo ga ngomong “kirain kaosnya bisa sepuluh ribuan” atau “biasanya juga beli setengah harganya”. Jangan panik, cukup bilang sama pembeli: “Pak/Bu, kalo uangnya ga cukup, kaos saya bisa di-leasing-kan ke Adira, ayo saya antar!”๐Ÿ˜€
  6. Jangan ngaku kalau kamu itu tunangan Anisa Cherrybelle, bisa jadi salah satu pembeli itu adalah wartawan infotainment yang menyamar!๐Ÿ˜€

Back to reality, Mamang sedikit share tentang prinsip bisnis Mamang. Starts small, but don’t dream small! Ya, mulailah sesuatu dari kecil, usahakan padat karya, bukan padat modal. Harus sabar menunggu bisnis berkembang, karena dari proses berkembangnya bisnis, Anda bisa melihat layak atau tidaknya bisnis ini untuk dijalankan. Tapi, jangan pernah bermimpi untuk jadi kecil, teruslah berkembang dan jangan pernah puas, hal ini akan menjaga motivasi Anda tetap tinggi.

Nikmatilah proses, jangan terburu-buru. Seperti kata Mamang, hirup mah santai weh, bisnis itu turun naik. Selami prinsip ingus, begitu turun cepat-cepat Anda ngingsreuk, cari cara untuk menaikannya lagi, jangan terlalu lama dibiarkan turun, nanti kering terjemur.๐Ÿ˜€

Akhir kata, percayalah bahwa life is good… Setelah bangga, maka akan terbitlah bangga!๐Ÿ™‚

Demikian, salam leuleupeutan, otot betis Mamang lalocotan

Categories: Sharing | Tags: , , , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “‘Bangga’ tapi Bangga

  1. Siip….mang lanjutkan #semangkaaaaa

  2. zeni ibrahiem

    siip mang maju terus! Simkuring mung tiasa nga du’akeun mudah mudahan kapayuna sing langkung laris manis dugi ka manca negara,
    sukses terus mang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: